Parahita tak pupus oleh Lupus, Parahita semangat terus!!!

Malang Flowers Carnival 2013

Dua kupu-kupu cantik Parahita yang pantang menyerah mengenakan kostum bunga di cat walk Ijen

Parahita Goes To Solo

Istirahat sejenak di Telaga Sarangan sebelum menghadiri Peringatan World Lupus Day 2012 di Solo

Kegiatan Rutin Parahita

Berkumpul di kesekretariatan Parahita Lab Kawi 31 dengan tujuan berbagi berita, rapat, edukasi, senam reumatik, dll.

Parahita Bagi-Bagi Bunga dan Penggalangan Dana

Peringatan World Lupus Day Parahita Tahun 2009 di Malang Town Square

Minggu, 06 Agustus 2017

Sambutan Ketua Umum Yayasan Kupu Parahita Indonesia

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Perkenalkan saya Elvira Sari Dewi (26 tahun) seorang pejuang Lupus yang telah diberikan amanah untuk memimpin Yayasan Kupu Parahita Indonesia atau lebih familiar kita sebut dengan Parahita. Beberapa diantara kita mungkin sudah saling kenal, saling sapa, hanya tahu wajah, hanya tahu nama, dan mungkin sudah berkomunikasi namun belum tahu satu sama lain. Sedikit ingin berbagi cerita tentang saya, Parahita, dan harapan saya untuk Parahita kelak. Semoga bermanfaat :)
Sudah tujuh tahun lamanya saya bersahabat dengan Lupus. Bersahabat? Iya bersahabat, lebih tepatnya bersahabat karena keterpaksaan. Pedih memang ketika mendengar atau mengingat dokter bilang “Anda terkena Lupus”. Tidak bisa didefinisikan, banyak pertanyaan yang muncul di kepala, ingin berteriak, ingin menangis, tidak percaya, ingin marah, tawar-menawar dengan Tuhan, depresi, hingga akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa memang seperti itulah jalan terbaik yang telah Tuhan gariskan.
Banyak hal yang terjadi selama tujuh tahun bersahabat dengan Lupus dan alhamdulillah Tuhan senantiasa memberikan saya semangat untuk menghadapinya. Singkat cerita, saya pernah dikira meninggal ketika saya diopname di suatu Rumah Sakit di Surabaya, namun Tuhan masih memberikan kesempatan sehingga saya bisa survive dan melakukan yang terbaik untuk dunia ini. Suatu anugerah yang sangat saya syukuri karena hidup ini memang indah. Melalui suatu ide “kompres dingin untuk menurunkan stres pada pasien Lupus” saya ditemukan dengan Parahita pada tahun 2012. Saya disambut hangat oleh ketua dan sekretaris Parahita pada saat itu (Bapak Lexy Eduard Pello dan Ibu Enni Suliati). Saya dikenalkan dengan pasien-pasien Lupus di Parahita dan dari situ saya merasa tidak sendiri lagi. Saya dijadikan bagian dari keluarga mereka. Berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi semangat, berbagi kebahagiaan, membuat saya dan Parahita semakin dekat dan merasa “lahir kembali”. Pada tahun 2013, ide “kompres dingin untuk menurunkan stres pada pasien Lupus” tersebut mengantarkan saya untuk mendapatkan beasiswa S2 Fasttrack (S2 yang ditempuh dalam waktu 1 tahun) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan pendidikan di Program Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (PMIB FKUB). Sungguh anugerah yang sangat luar biasa karena pada waktu yang bersamaan di PMIB FKUB baru saja dibentuk Pusat Studi Autoimun Rematik dan Alergi (AURA) di mana salah satu fokus studinya adalah di bidang Lupus. Saya tertarik untuk bergabung dengan Pusat Studi AURA karena memang saya ingin belajar Lupus lebih dalam di PMIB FKUB. Di Pusat Studi AURA saya bertemu dengan Profesor Handono dan Profesor Kusworini yang ternyata adalah pakar Lupus di Indonesia dan juga Pembina dari Parahita. Suatu kebetulan yang luar biasa, tapi saya percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Saya percaya bahwa perjumpaan saya dengan Lupus, Parahita, PMIB FKUB, Pusat Studi AURA, Profesor Handono, dan Profesor Kusworini pasti sudah digariskan oleh Tuhan karena suatu alasan.
Saya belajar banyak hal tentang Lupus bersama Profesor Handono dan Profesor Kusworini. Tidak hanya dari segi akademis, tapi berbagai hal nonakademis pun beliau berdua ajarkan pada saya. Saya senantiasa dididik dan dibimbing dengan penuh kesabaran dan ketelatenan oleh beliau berdua. Tidak bisa saya definisikan, beliau berdua adalah guru terbaik yang sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Beliau berdua adalah role model saya. Sosok yang senantiasa percaya bahwa saya bisa, bahwa saya mampu, dan saya lebih sehat daripada orang-orang sehat di sekitar saya, walaupun kenyataannya seringkali saya mengecewakan beliau berdua, tapi beliau berdua senantiasa memberikan saya kesempatan untuk belajar, belajar, dan terus belajar. Beliau berdua lah semangat saya. Saya ingin bisa meniru kebaikan yang senantiasa beliau berdua contohkan kepada saya.
Pada tahun 2015 saya diajak Profesor Kusworini untuk mengurus pendirian Pusat Kajian Lupus di FKUB. Satu-satunya pusat pendidikan dan penelitian tentang Lupus yang ada di Indonesia. Senang rasanya, bisa belajar teori plus praktiknya langsung bersama ahlinya. Tahun 2016 saya diangkat menjadi dosen di FKUB. Dan pada tahun 2017 Parahita yang awalnya berupa perhimpunan masyarakat di bawah pimpinan Bapak Lexy Eduard Pello telah bermetamorfosis menjadi Yayasan Kupu Parahita Indonesia dan saya diamanahi untuk memimpinnya. Terus terang, pada awalnya saya tidak siap menerima amanah tersebut. Memimpin suatu organisasi yang beranggotakan pasien-pasien Lupus di Malang Raya dan sekitarnya (Blitar, Tulung Agung, dan Jember), dengan segala keterbatasan yang saya punya, membuat saya banyak merenung “apa ya saya bisa?” Berkat dukungan para pengawas, yakni Bapak Dokter Cesarius Singgih Wahono dan bapak Lexy Eduard Pello saya mulai memantabkan hati untuk menerima amanah tersebut. Saya tidak sendiri dalam memimpin organisasi ini, saya ada di bawah bimbingan para Pembina dan Pengawas dari Yayasan Kupu Parahita Indonesia. Saya harus bisa untuk kemajuan Parahita yang telah “melahirkan” saya.
Pada tanggal 8 April 2017, Parahita mendapat undangan dari Perhimpunan SLE Indonesia (PESLI), suatu perhimpunan yang beranggotakan dokter-dokter pemerhati Lupus di Indonesia, di Jakarta Indonesia. Undangan tersebut dihadiri oleh Perhimpunan Reumatologi Indonesia (Indonesia Rheumatology Association/IRA), seluruh perwakilan LSM pemerhati Lupus dari berbagai wilayah di Indonesia, perwakilan dari Direktorat Pengendalian & Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, public figure peduli Lupus Ibu Wanda Hamidah, dan perusahaan peduli Lupus PT. Immortal Pharmaceutical Laboratories. Bersama-sama kami mendandatangani petisi sebagai komitmen bersama untuk mensukseskan pembangunan kesehatan di Indonesia, khususnya di bidang Lupus. Hingga saat ini ternyata data terkait jumlah pasien Lupus di Indonesia belum diketahui dengan pasti sehingga pemerintah Indonesia sedikit kesulitan saat menyediakan obat-obatan untuk pasien Lupus, khususnya obat-obatan yang harus diimpor dari luar negeri. Oleh karena itu, saya memohon dukungan dari teman-teman semua untuk kesediaanya dilakukan pendataan suatu hari nanti guna mensukseskan pembangunan kesehatan di Indonesia untuk masa depan Lupus yang lebih baik.
Tanggal 26 Juli 2008 adalah hari lahir Parahita. Saya bersama teman-teman di grup whatsapp @yayasanparahita sempat merencanakan untuk membuat video yang akan kami persembahkan untuk masyarakat dalam rangka memperingati 9 tahun berdirinya Parahita. Namun Tuhan berkehendak lain, di awal Ramadhan 1438 H ini (sekitar awal Juni 2017), satu per satu dari kami, termasuk saya, tumbang dan harus masuk Rumah Sakit guna perbaikan kondisi. Pertama kalinya dalam sejarah perjuangan saya melawan Lupus, saya merasakan yang namanya down dan depresi. Iya saya sudah tidak punya semangat lagi seperti sebelum-sebelumnya, saya down ketika melihat Hb saya 6,1; trombosit saya 39.000; dan tensi saya 80/40. Sakit sekali rasanya, terutama ketika pulse metilprednisolon 500 mg IV diberikan selama 3 hari berturut-turut. Respons tubuh saya tidak cukup baik menerima pengobatan tersebut dan ada perasaan cemas bahwa Hb, trombosit, dan tensi tersebut tidak bisa kembali normal. Untungnya saya ditangani langsung oleh dokter terbaik di kota Malang, Bapak Dokter Cesarius Singgih Wahono yang sudah seperti orang tua saya sendiri. Saya merasa tenang ketika saya bisa menceritakan semua yang terjadi pada saya kepada beliau, dan saya mempunyai keyakinan, dengan jiwa saya yang tenang dan pengobatan terbaik yang beliau berikan, Insya Allah saya bisa cepat diberikan kesembuhan olehNya.
Lima hari lamanya saya dirawat di RSSA. Pada waktu yang bersamaan, 5 orang anggota dari Parahita juga dirawat di RSSA bersama saya. Saya tidak boleh menunjukkan perasaan down dan depresi saya kepada mereka, sehingga selama di Rumah Sakit saya selalu berusaha menunjukkan senyuman terbaik saya kepada semua orang. Saya didampingi tim PPDS (dr. Ayu dkk), koas, perawat, dan mahasiswa perawat yang selalu siaga, sabar, dan baik hati. Setiap pagi saya dijenguk oleh dr. Bayu dan dr. Maya. Mereka semua tahu kondisi saya dan mereka semua tahu saya menyembunyikan rasa sakit saya. Kondisi Hb dan trombosit turun itu rasanya lemas sekali (ibarat baterai hp sudah dalam kondisi lowbat), aktivitas berat sedikit cepat capek, jalan ke kamar mandi ngos-ngosan, mudah sesak, mudah kesemutan, mudah demam, mudah kedinginan, kepala langsung terasa sakit bila dibuat mikir, tidak fokus, dan intinya susah stabilnya. Setelah dipulangkan dari RS, saya masih harus menjalani bedrest total selama 27 hari di dalam kamar karena memang saya belum kuat untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Hanya bisa bersyukur bahwa inilah kesempatan yang Tuhan berikan untuk saya benar-benar menikmati waktu istirahat saya. Sesekali memang sempat bosan dan capek dengan rutinitas sakit yang entah bagaimana endingnya nanti. Tapi saya tidak boleh mengecewakan dr. Singgih, beliau sudah memberikan pengobatan terbaik kepada saya, saya harus sembuh, saya harus semangat, saya pasti bisa, demi Parahita, demi Pusat Kajian Lupus, demi pernikahan sahabat saya Pratiwi Indrihapsari, dan demi janji saya dengan teman saya 2018 nanti. Iya seperti itulah semangat saya yang membuat saya kembali survive :)
Malam ini saya sudah benar-benar merasa sembuh. Hasil lab terakhir saya, Hb sudah 8,1; trombosit 279.000, dan tensi sudah 120/80. Alhamdulillah. Terima kasih kepada dukungan semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini. Special thanks to dr. Maya yang telah melakukan home visit ke rumah dan Profesor Kusworini yang telah mengajak makan banyak saat hala bihalal Universitas supaya saya cepat sembuh. Sungguh pengalaman manis yang tidak bisa saya lupakan. Besok Senin Insya Allah saya sudah siap kembali untuk bekerja, mengabdikan diri saya untuk institusi saya Universitas Brawijaya, untuk Pusat Kajian Lupus, dan untuk Parahita tercinta. Mohon doa dan dukungan teman-teman semua supaya saya bisa menjalankan amanah yang diberikan kepada saya dengan sebaik mungkin.
Add caption
Terakhir saya ingin mengucapkan permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya kepada teman-teman semua bila selama 7 bulan pertama memimpin Parahita ini saya kurang fokus, saya kurang perhatian, dan saya belum bisa merangkul semuanya dengan baik. Selama ini saya benar-benar tidak tahu kalau saya sakit, rupanya gejala sakit saya tersebut sudah muncul sejak September 2016 (sebelum saya dilantik jadi ketua Parahita) dan semakin memburuk sejak Februari 2017. Saya kurang aware dengan kondisi kesehatan saya sendiri sehingga hal tersebut berdampak pada Parahita. Saya harap teman-teman di Parahita tidak ada yang seperti saya, pura-pura kuat tapi pada endingnya harus opname di RS. Dirawat di RS itu sungguh tidak enak, apalagi kalau sudah kena pulse metilprednisolon. Doa saya semoga semua anggota saya diberikan kesehatan; semoga yang saat ini sedang dirawat di RS diberikan kesabaran, semangat, dan kesembuhan; dan semoga semua diberikan kebahagiaan dan kedamaian dalam menghadapi Lupus. Bismillah saya siap memfasilitasi teman-teman semua bila memerlukan bantuan saya terkait Lupus, Insya Allah :)
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua yang telah hadir dalam peringatan HUT ke-9 Parahita di rumah saya pada tanggal 1 Agustus 2017 kemarin. Alhamdulillah Parahita sudah berusia 9 tahun dan harapan kami, Para Pengurus Parahita, pada tahun ke-10 nanti Parahita bisa lebih eksis dan benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. Amin Amin Amin Ya Robbal Alamin.
Demikian yang ingin saya sampaikan, mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan, dan semoga bermanfaat. Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassalamu’alaikum Wr Wb.


Malang, 6 Agustus 2017
Ketua Umum Yayasan Kupu Parahita Indonesia,
Elvira Sari Dewi

Selasa, 26 Juli 2016

selamat ulang tahun yang ke-8 Parahita

tidak ada yang kebetulan, karena rupanya Tuhan sengaja memberikan pengalaman 'lebih' agar kami dapat berbagi dengan sahabat yang lain. bismillahirrohmanirrohim... 
selamat ulang tahun yang ke-8 Parahita (26 Juli 2008 - 26 Juli 2016)
semoga ikhtiar demi ikhtiar yang kami lakukan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya pasien-pasien Lupus dan para pendamping, sehingga ke depannya kualitas hidup pasien Lupus dapat ditingkatkan. Amiiin.

Minggu, 26 Juni 2016

KEKUATAN DOA & CINTA SEORANG IBU

Oleh Ibu Lusia Kris 
(Pemenang Lomba Menulis dengan Tema Perasaan Seorang Ibu Ketika Anaknya Terdiagnosa Lupus)
---
Ketika Allah rindukan hambaNya.. ia akan mengirimkan sebuah hadiah istimewa melalui malaikat Jibril yang isinya adalah UJIAN. “Pergilah kepada hambaku, lalu timpakanlah ujian kepadanya, karena aku ingin mendengar rintihannya”
Aku hanya bisa bersimpuh dalam keheningan malam... Air mata mengiringi penyesalan dan taubatku... Ya Allah... jika ini adalah bentuk kasih sayangMu kepada hambaMu.. atas kelalaianku menjaga dan merawat amanahMu.. Kami ikhlas dengan segala ketentuanMu... Kami memohon berilah kami kekuatan untuk menjalani... Tuntun kami dalam dekapan kasihMu.. Kami yakin dan percaya dengan segala rencana terbaik dan terindahMu...
LUPUS... menjadi titik balik dalam kehidupanku..
Hati setiap ibu pasti tidak akan rela ketika putri cantik kesayangannya harus menerima cobaan dan ujian sebesar ini. Masa ketika ibarat bunga sedang beranjak mekar... Masa menikmati indahnya remaja... harus direnggut dengan menjalani hari-hari hanya berteman dengan selang infus, jarum suntik, obat-obatan dan suasana kamar rumah sakit... Dua tahun pertama kami berjuang untuk bisa menerima kenyataan.
Ibu mana yang tidak menangis ketika melihat putrinya tertatih-tatih untuk berjalan... hanya mampu menyeret kakinya selangkah demi selangkah... Erangan dan air mata selalu mengiringi setiap gerak dan langkahnya...
Ibu mana yang tidak ingin menjerit ketika wajah cantik putrinya bagaikan “manusia akar” ketika herpes memenuhi wajah tubuhnya... Nanah dan darah yang mengalir serta perih yang dirasakan tidak akan mampu menandingi perihnya hati seorang ibu...
Belum cukup... Melihat putri cantiknya layu tak berdaya... Ketika tak kutemukan pancaran sinar semangat hidup di matanya... semakin membuat hati seorang ibu hancur...
Aku hanya bisa termangu memandang putri cantikku selalu kebingungan... kehilangan memori jangka pendek dan tak tahu harus berbuat apa... Bagaimana dengan masa depannya nanti...
AKU HARUS BANGKIT... KALAU AKU IKUT TERPURUK.. BAGAIMANA DENGAN DIA...
IBU MACAM APA AKU JIKA TIDAK BISA MEMBUATNYA BANGKIT
AYOOOO SAYANG... BANGUN... KITA LALUI BERSAMA-SAMA... KAMU PASTI BISA...
LUPUS yang menyerang sendi, ginjal, pembuluh darah, syaraf serta otak putri cantikku awalnya membuat nyali kami ciut. Penyakit autoimun yang mematikan dimana obat dan penyebabnya saja belum diketahui pasti membuat kami terpuruk dalam keputusasaan.
Ada satu nasehat dari dokter yang terus melekat di hati dan ingatan saya...
“UNTUK KESEMBUHAN PENYAKIT, DOKTER DAN OBAT-OBATAN BERPERAN HANYA 25%... 75% ADALAH SEMANGAT DAN KEYAKINAN SEMBUH DARI PASIEN SERTA DUKUNGAN DARI KELUARGA” dan “UNTUK MENJINAKKAN LUPUS DILARANG “KEMRUNGSUNG”.. LEBIH BAIK BERJALAN PELAN-PELAN TAPI SAMPAI TUJUAN... DARIPADA BERLARI KENCANG TAPI PINGSAN DI TENGAH JALAN”
Mulailah kami menata langkah untuk berjalan bersama si Luppy... Ikhtiar medis tetap kami lakukan dengan displin...
Saya selalu memotivasi putri kesayanganku bahwa LUPUS bukan akhir segalanya. Masih banyak hal dan kelebihan yang bisa kamu lakukan dengan segala keterbatasanmu. Bukan hasil akhir yang menjadi tujuan utama tetapi proses yang kamu jalani yang akan membuatmu menjadi kuat.
Dalam benakku... bagaimanapun kondisi putriku... pastilah masih menyimpan seberkas harapan dan cita-cita. Terdiagnosa lupus saat masih duduk di kelas 3 SMP. Keluar masuk rumah sakit pastilah sudah menjadi beban tersendiri dalam hari-harinya. Untungnya sekolah, guru-guru dan teman-temannya sangat mendukung kondisinya. Guru selalu mengkondisikan agar dia bisa mengikuti pelajaran dengan segala keterbatasannya dan menjaga agar dia bisa dan siap mengikuti Ujian Akhir Nasional.
Yang tak bisa kulupakan adalah dukungan dari teman dan sahabatnya. Mereka rela menuliskan catatan bergantian dibuku pelajarannya, karena kondisi persendiannya membuat tangannya nyeri untuk menulis, menggotong dia saat pingsan dari kelasnya di lantai 3 menuju UKS dilantai bawah, selalu menjaganya untukku, menghubungiku saat mereka tak sanggup lagi harus berbuat apa.
Perjuangannya untuk mengikuti ujian nasional sampai titik dimana dia ambruk dimeja ujian dengan darah menetes dari hidungnya. Tak putus doaku untuk perjuangannya. Sampai tiba saat pengumuman kelulusan. Ayahnya saja yang mengambil amplop pengumuman kelulusan tak sanggup untuk membukanya... bagaimana jika harus menyampaikan kabar terburuk padanya. Waktu terasa lama untuk menunggu kabar dari ayahnya, sampai akhirnya ponselku berdering... hanya terdengar isak tangis dan satu kata LULUS yang terucap. Tangis kami dirumahpun pecah... Kupeluk putriku dengan erat dan kubisikkan padanya... “kamu lihat sayang... perjuanganmu tak sia-sia... kamu pasti bisa”.
Ternyata ini menjadikan pikiran positif dan memotivasi semangatnya untuk tidak menyerah. Tapi sayangnya di sekolah selanjutnya situasi dan kondisi tidak mendukung. Sedikit demi sedikit semangatnya menurun dengan tekanan-tekanan dari lingkungan sekolahnya. Wali kelas, guru, BK sampai kepala sekolah tidak ada kepedulian sama sekali dengan kondisinya. Bahkan mereka mengatakan “kami lah yang harus tahu diri”.
Sampai pada puncaknya lupus menyerang otaknya. Saat kondisi kejang dan memeluknya dalam perjalanan menuju UGD hanya derai air mata dan untaian doa dalam hati... “Ya Allah... jangan ambil putriku sekarang... berilah hamba kesempatan untuk merawatnya lebih baik lagi.. untuk menebus segala kelalaian dan kesalahan-kesalahanku dimasa lalu..
Detik demi detik berlalu begitu lambat untuk menunggu kabar... sampai akhirnya diputuskan untuk opname... Kondisinya semakin memburuk... tiba-tiba dia berubah seperti anak kecil.. kebingungan... dan kacau serta tidak nyambung saat diajak bicara... sampai ditangani oleh psikiatri. Hasil lab menunjukkan ada darah dalam urinnya tanda bahwa ada masalah dengan ginjalnya. Dokter menyarankan untuk memberikan terapi cyclophospamide.. dan menjelaskan kalau itu semacam kemoterapi yang dilakukan beberapa seri. Dokter hanya menggelengkan kepada ketika kutanyakan apakah tidak ada alternatif lain.
Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini adalah pilihan terbaik. Butuh waktu tiga hari untuk menandatangani surat persetujuan. Sambil membayangkan efek dari kemoterapi... putri cantik kesayanganku akan botak, muntah-muntah, kulit menghitam, tidak punya keturunan... Ya Allah... kuatkan aku dan putriku... Kemantapan hatiku semakin kuat ketika suamiku memeluk dan menggenggam tanganku.. “sayang... ikhlaskan semuanya... berdoa saja agar ini menjadi yang terbaik buat putri kita... yang penting dia selamat... dan yakinlah dengan segala rencana indah dibalik semua ketentuanNya”.
Melihat suster masuk kamar membawa infus dan selang yang dibungkus dengan plastik dan plester hitam, membuat hatiku ciut.. membayangkan betapa kerasnya obat yang akan masuk dalam tubuh putriku. Kupandangi wajah putriku yang tertidur pulas... Kugelar sajadah disamping tempat tidurnya... bersimpuh dan bermunajat kepadaNya.. kupasrahkan segalanya padaMu ya rabb... isak tangis dalam pelukan ibundaku mengiringi tetes demi tetes cairan yang masuk dalam pembuluh darah putriku.. sambil terus berdoa.. terapi ini direncanakan diberikan dalam 6 seri setiap 28 hari...
Subhanallah... walhamdulillah.. Allahu Akbar... seminggu kemudian putriku diperbolehkan pulang dengan sebuah MUKJIZAT... semua hasil pemeriksaan lab putriku kembali normal.. dan terapi cyclophospamide dibatalkan...akupun berlari ke masjid... kutumpahkan segala rasa syukurku dalam air mata yang mengalir tak terbendung membasahi mukena dan sajadahku...aku tak peduli lagi dengan pandangan orang-orang disekitarku..
Saat-saat itulah yang menjadi perjuangan terberatku... tidak mau mengambil resiko akhirnya putriku aku keluarkan dari sekolah formal dan memilih menjalani pendidikan dengan homeschooling. Aku juga memantapkan hati untuk berhenti bekerja meninggalkan semua keinginan dan ambisiku, agar bisa fokus merawat putriku.
Sekali lagi Allah memberikan hadiah terindah dalam perjuangan kami. Putriku dinyatakan REMISI. Allahu Akbar... Nikmat mana lagi yang kau dustakan...
Menyadari entah sampai kapan bisa mendampingi putriku... Aku harus mempersiapkannya menjadi pribadi yang tangguh dalam segala situasi dan kondisi serta membuat hidupnya menjadi lebih bermanfaat bagi sesama.
Membawanya selalu untuk berbagi semangat dengan sesama penderita lupus... mengajarkan kepadanya untuk selalu bersyukur... Bahwa dia masih diberikan kesempatan lebih luas. Menunjukkan dan mengajarkannya bahwa masih banyak hal yang bisa terus dipelajari dan bisa kamu lakukan...
Tapi si luppy ini memang nakal dan usil... rasanya tak rela kalo sahabatnya bahagia barang sejenak... saat menjalani aktifitasnya sebagai mahasiswa baru lupusnya kembali kambuh.. Nyeri dan bengkak pada persendiannya.. kebocoran protein dalam urinenya... dan masih banyak lagi colekan-colekan jahil dari si luppy... tapi putriku sudah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh untuk mengatasinya...
Perjuanganku bersamanya terasa indah dan ringan... tak terasa sudah 7 tahun berlalu...Tak perlu menggubris pandangan sinis atau tatapan iba dari sekeliling... Tak harus menyembunyikannya atau menutup-nutupi bahwa putriku adalah penyandang lupus... Kami tidak perlu di kasihani hanya mohon dimaklumi bahwa odapus hidup dalam keterbatasan.
Tak terhitung lagi berapa rupiah yang kami keluarkan... mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lain hanya untuk perjuangan kami... kami tak peduli...
Itu yang kulakukan untuk masa depannya... ketika lingkungan tidak mendukung dengan kondisinya aku akan selalu ada di sampingnya untuk menemani... menyediakan bahuku untuk bersandar ketika dia lelah... mengulurkan tanganku ketika dia terjatuh... memeluknya untuk memberikan ketenangan... mendekapnya ketika gundah... menjadi teman dan sahabat untuk berbagi cerita... menjadi orang tua sebagai pengayom dan pelindungnya...
Bahkan untuk kegiatan kampus... aku rela memindahkan tempat praktikum kerumah hanya untuk menjaganya agar tidak kepanasan dan kehujanan serta kelelahan... mencarikan solusi untuk masalah-masalahnya.
Intinya aku berusaha untuk selalu membuatnya bahagia... ditengah perjuangan untuk mengatasi segala rasa sakitnya dan untuk mewujudkan segala harapan dan cita-citanya.
Aku berkeyakinan bahwa kekuatan doa seorang ibu akan sanggup menembus lapisan langit dan sampai kepadaNya.
5 tahun berlalu tanpa harus menjalani kehidupan di rumah sakit membuktikan bahwa curahan kasih sayang.. cinta.. dan perhatian menjadi obat yang tak ternilai harganya. Memang kadang-kadang lupusnya kambuh... tapi kami menganggapnya sebagai alarm peringatan bahwa ada yang salah dan membuat kami selalu waspada. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Kini Allonaku sudah tumbuh dewasa menjadi sosok pribadi yang tangguh dan mandiri... Kekuatan doa mama akan selalu mengiringi setiap langkahmu. Peluk dan ciumku akan selalu menjadi penyejuk hatimu... Bahwa ada mama disampingmu... tentunya dengan segala petunjuk dan ridha allah dalam setiap doamu...
Semoga curahan hati seorang ibu ini bisa memberikan inspirasi untuk semua odapus dan pendamping.. apakah pendamping itu seorang ayah.. ibu... suami... kakak... adik.. saudara... teman.. sahabat... mereka butuh dukungan dengan kekuatan penuh... Dengan kondisi masing-masing odapus yang berbeda... obat-obatan dan terapi yang berbeda... hanya satu yang harus sama... SEMANGAT TAK AKAN PUPUS OLEH LUPUS...

‪#‎entah‬ sudah berapa lembar tisu untuk menampung air mata, setiap kali harus mengenang dan menceritakan kembali kisah ini#

---
[el/parahita]